Sebenarnya saya sendiri kurang begitu suka dengan analogi “Rumah Sendiri” yang sebenarnya merepresentasikan suatu perjalanan esoteris dalam posting sebelumnya. Tapi nampaknya memang itu cara paling mudah untuk menujukan sesuatu yang abstrak, lagi pula menganalogikan sesuatu yang abstrak dalam konteks kehidupan sehari-hari disini sepertinya juga telah menjadi kebiasaan semacam “archetype” istilah Gustav Jung dalam mengartikan pengalaman kolektif masa lalu dan masih tetap melekat di alam bahwa sadar hingga hari ini.
Kita mungkin masih ingat barangkali dengan Dongeng / cerita rakyat - “folklore” yang biasa diceritkan dari mulut ke mulut oleh orang tua kita di rumah, guru kita di sekolah, dalang wayang, pendongeng di radio atau tv, yang biasanya sarat mengandung nilai moral seperti “Malin Kundang”, “Sangkuriang” dan masih banyak lagi. Dalam cerita-cerita tersebut biasanya kita menemukan analogi-analogi untuk merepresentasikan makna dan nilai.
“Sungguh sulit memang mengatakan suatu kebenaran meskipun kita tahu analogi mengorbankan kebenaran itu sendiri”
Kembali ke pencerahan, bisa jadi kamu menemukan “Rumah itu” atau mungkin saja sampai mati kamu tidak menemukan “Rumah Tersebut”. Ada momen-momoen dalam hidup kamu, ketika mendapatkan suatu perasaan senang atau merasa “tercerahkan”, dari situlah “kalau tidak hati-hati” sebenarnya kamu akan terpuruk ke dunia sesaat. Mungkin kamu mengira telah mengalami kebangkitan, padahal sebenarnya kamu justru menjadi gila.

